Shteratebojonegoro.com | Cabang — Senja turun perlahan di halaman sekretariat Cabang SH Terate Bojonegoro. Di sisi lapangan tempat keringat biasa tumpah dalam latihan, lantunan ayat suci kini mengalir lebih deras dari biasanya. Ramadan yang hampir menutup pintunya justru disambut dengan langkah yang dipercepat: mengkhatamkan Al-Qur’an sebelum bulan penuh rahmat itu benar-benar berlalu.
Di Mushala Al Hikmah, para siswa putih bersama pelatih tak membiarkan waktu tersisa menguap sia-sia. Mereka menambah jam tadarus, seolah ingin memadatkan cahaya dalam sisa malam dan senja yang ada. Seusai Asar, sekitar pukul 16.30 WIB, suara bacaan mulai mengisi ruang—lirih, berlapis, namun khusyuk. Setelah tarawih, gelombang itu bangkit kembali, menutup malam dengan huruf-huruf langit yang dilafalkan dari dada yang tekun.
Di bawah bimbingan Kangmas Yai Mashur, para siswa membaca secara bergiliran. Targetnya sederhana namun berat: satu malam satu juz.
“Minimal one night one juz,” ujar Mas Mashur, tenang, seakan angka itu bukan beban, melainkan janji yang harus ditepati kepada diri sendiri.
Bagi Mas Mashur, Ramadan bukan sekadar musim ibadah tambahan, melainkan ruang pembuktian. Ia ingin para siswa memahami bahwa SH Terate bukan hanya tentang kekuatan tubuh, tetapi juga keteguhan jiwa.
Menurutnya, membaca Al-Qur’an melatih disiplin yang lebih halus—disiplin rasa. Setiap huruf adalah Kalamullah yang tak boleh tergelincir, setiap panjang pendek harus dijaga, setiap jeda harus dihayati. Dari kehati-hatian itu, ia berharap lahir kehati-hatian lain: dalam bersikap, dalam menggunakan ilmu, dalam memaknai kekuatan.
“Dengan pembiasaan ini, nanti ketika mereka disahkan menjadi pendekar, mereka tidak sombong dan tetap punya semangat berlatih,” tuturnya.
Hari demi hari menjelang akhir Ramadan, mushala kecil di samping lapangan itu tetap hidup. Tidak riuh, tidak gemerlap—hanya napas panjang orang-orang yang membaca, membalik halaman, lalu membaca lagi. Sebuah kesibukan sunyi yang barangkali justru paling nyaring terdengar di langit.
Di tempat yang sama, tubuh ditempa di siang hari, sementara ruh diasah di senja dan malam. Keduanya berjalan beriringan, seperti dua sisi pedang yang sama—tajam namun terarah.
Ramadan hampir memunggungi kita. Namun di Mushala Al Hikmah, ia seolah ingin ditahan lebih lama—dengan bacaan yang tak putus, dengan tekad yang tak surut, dengan harapan agar berkah tidak hanya singgah, tetapi menetap di hati mereka yang menjaganya. (Tim Humas Plat S)

